Oleh:
Uni Qalbarri
Melihat judul di atas, kelihatannya memang aneh. Kenapa harus belajar Pramuka? Pertanyaan ini keluar dari seorang anak ketika penulis mengajak untuk latihan Pramuka. Anehnya, tanpa hirau anak tersebut lebih memilih bermain game di warnet terdekat. Melihat fenomena yang terjadi jaman sekarang, anak-anak dengan mudahnya mengakses film tak senonoh. Bahkan tingkahlaku menyimpang lainnya pun sering dilakukan, contoh kecil bolos sekolah.
Dalam sebuah artikel/wawancara tokoh Kak Seto yang berjudul “Pusing dengan Perceraian Artis”, Professor Arief Rachman mengatakan bahwa anak butuh akhlak dan watak. Beliau melihat pendidikan di Indonesia secara umum hanya menekankan aspek kognitif (pikiran, akademis). Hal-hal yang sifatnya terukur saja. Sementara itu, soal akhlak dan watak serta hal lain yang tidak terukur, boleh dibilang ditelantarkan. Padahal kalau kita membaca tujuan pendidikan dalam Undang-Undang Pendidikan, kita bisa melihat bahwa tujuan pendidikan itu memuat juga kedua hal tersebut. Inilah yang menyebabkan bangsa ini sulit menjadi bangsa yang besar. Jika di masa anak-anak saja sudah membandel, bagaimana jika sudah dewasa nanti? Mungkin saja menjadi generasi para koruptor atau bisa saja menjadi individu yang tidak sportif dan akan merebak di berbagai dimensi kehidupan dan sikap-sikap negatif lainnya.
Berkaitan dengan pramuka, masalah di atas dapat diatasi dengan cara melibatkan sianak dalam Gerakan Pramuka. Gerakan Pramuka(praja muda karana = orang muda yang berkarya) merupakan sebuah organisasi kepemudaan yang didirikan dengan maksud memberikan pembinaan generasi muda yang menggunakan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan. Gerakan Pramuka ini membina dan mendidik anak-anak dan pemuda Indonesia dengan tujuan untuk; menciptakan generasi bangsa yang kreatif dan mandiri serta memiliki wawasan yang luas sebagai sumber daya masusia yang berwatak dan berbudi luhur, serta menjadi warga Negara republik Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia pada Negara kesatuan republik Indonesia, serta berupaya menjadikan manusia yang suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan dalam kehidupannya sehari-hari.
Sebagai wadah pembinaan generasi muda, pramuka secara aktif berpatisipasi dalam masalah-masalah pembangunan yang mendambakan kesejahteraan lahir dan batin bagi seluruh bangsa Indonesia. Semua anggota Gerakan Pramuka menerima prinsip-prinsip pendidikan yaitu pertama, bahwa pendidikan berlangsung sepanjang hayat (long life education) dan , bahwa terdapat empat sendi, ‘sokoguru’ atau pilar pendidikan, yaitu belajar mengetahui (learning to know) belajar berbuat (learning to do), belajar hidup bersama, hidup bersama orang-orang lain (learning to live together, to live with others), dan belajar menjadi seseorang (learning to be )
Melalui proses pendidikan yang efektif, efisien, dan produktif diusahakan dapat membantu setiap anggota Gerakan Pramuka agar berkembang menjadi agent of change, menjadi pelopor (bukan pengekor), menjadi pembaharu yaitu selalu menilai tentang masa lalu, memandang ke masadepan, serta mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi dan menyusun, merencanakan kemudian melaksanakan berbagai program pada masa kini untuk meraih cita-cita dan tujuan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Misalnya membangun masyarakat madani (civil society), masyarakat adil-makmur, material-spiritual berdasarkan Pancasila.
Jika di atas dikemukakan tiga buah sasaran pendidikan, maka sasaran pertama adalah pengetahuan dan informasi fungsional diusahakan meraihnya melalui pengajaran (teaching), sasaran kedua adalah keterampilan yang relavan melalui pelatihan (training), dan sasaran ketiga adalah sikap mental pembaharuan dan pembangunan melalui bimbingan (guidance) dan keteladanan (by example).
Dari ketiga sasaran pendidikan tersebut, hal yang mudah untuk dilaksanakan adalah pengajaran termasuk memberikan kuliah, ceramah, dan sebagainya. Sebaliknya, hal yang sulit pada hakikatnya adalah upaya bimbingan dan keteladanan serta penanaman, pemupukan dan pengembangan sikap mental pembaharuan dan pembangunan. Hal ini sangat erat hubungannya dengan nilai-nilai yang menentukan berhasil tidaknya pendidikan.
Usaha memotivasi peserta didik agar belajar dengan sunggu-sungguh sepanjang hayat, termasuk kedalam pendidikan nilai. Perlu kita sadari, bahwa pada hakikatnya Gerakan Pramuka juga bergerak dalam bidang pendidikan. Sehingga dibutuhkan kesungguhan yang luar biasa untuk mempersiapkan generasi muda dalam mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang akan dijadikan bekal untuk mengarungi kehidupan. Dalam hal ini, Gerakan Pramuka memiliki kode kehormatan atau dapat juga disebut kode etik dalam bentuk janji dan ketentuan moral.
Salah satu kode kehormatan bagi Pramuka Siaga (berusia 7-10 tahun) dalam bentuk janji yang disebut Dwisatya Pramuka yang berbunyi “Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh: -menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengikuti tatakrama keluarga; -setiap hari berbuat kebajikan. Sedangkan dalam bentuk ketentuan moral disebut Dwidarma Pramuka yang berbunyi: (1) Siaga berbakti kepada ayah bundanya. (2) Siaga berani dan tidak putus asa.
Nilai-nilai di atas hendaknya dibiasakan sejak dini agar menjadi pedoman tingkahlaku sehari-hari. Sehingga mereka kelak tidak akan canggung dalam menghadapi tantangan masa depan, bahkan tantangan tersebut dapat dijadikan kesempatan baru. Tentu hal ini dilaksanakan sesuai dengan usia anak serta kemampuan fisik-mental-spiritual dan sosial-emosional mereka masing-masing.
Untuk mengakhiri tulisan ini kiranya perlu ditegaskan bahwa jika kita menggunakan istilah pendidikan, maka perbuatan-perbuatan baik yang teungkap di dalam proses maupun produk pendidikan itu haruslah yang ‘etis-religius baik’. Itu berarti nilai-nilai menanam, memupuk dan mengembangkannya di dalam peserta didik anggota Gerakan Pramuka adalah agama, yaitu ajaran-ajaran Tuhan Yang Maha Esa yang tertulis dalam kitab suci masing-masing. Di samping agama, kebudayaan juga sering dibataskan sebagai sistem nilai. Ingat perumpamaan nenek-moyang agar kita ‘saling asah, saling asih, saling asuh’ dan merupakan nilai yang perlu ditanam, dipupuk dan dikembangkan di dalam diri setiap manusia khususnya anggota Gerakan Pramuka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar